Ngebut?

6 11 2010

Kemarin seorang karyawan di pabrik saya dikabarkan tewas karena kecelakaan, tragis.

Karena masih hangat berita tentang 2 orang (cowok n cewek) yang celaka juga, yang satu dilindas mobil box yang satu dihajar bus jemputan pabrik sendiri. Dua2nya masih muda sama2 bru bekerja.

Entah pula siapa yg kudu disalahkan, karena nyawa sudah melayang dan penyesalan jadi tidak berarti.

Karena masih banyak cita-cita n trauma celaka keinginan untuk kebut2an djalan ditinggalkan dulu disamping gak kuat motor bebek jadul harus perang aspal dengan motor berbandrol edan edanan juga menganut prinsip mencegah lebih baik dari mengobati.

Karena pada dasarnya tingkat keamanan naek sepeda motor amat sangat rawan celaka. Apalagi kalo jalanan mulus nan sepi, hawa balap motogp kebawa nyampe ubun ubun.

Grunggg…

Grunggg…

Joki amatiran pengen tau siapa sebenarnya raja jalanan, gak peduli siapa didepan apapapun pangkatnya dilibas habis, jarum spidometer sudah mentok kehabisan angka dan suara raungan mesin yang lebih mirip lolongan serigala sakit tenggorokan menambah andrenalin untuk lebih giat memainkan kopling dan gas.

Sedangkan rem hanya hiasan tak pula diinjak atau dilirik. Tinggal satu lagi, sebuah truk besar panjang entah pengangkut apa yang kudu dilewatin.

Akhirnya gas di tarik :

Nguuungggg…

Nguuungggg…

Bruakkkkk…..

Dunia seakan terasa lambat, hening dan ini apa ? Darah! Itu tubuh siapa ?

Mudah-mudahan amit amit gak terjadi apapapun bentuknya yang namanya celaka walow cuman ampir ampiran nabrak angkot plus dimaki-maki pengendara lain, tapi yang namanya ciloko jangan deh.

Sepeda motor sekarang, walawpun kelasnya bebek, dalam keadaan standar memang dimungkinkan untuk ngebut sekebut kebutnya. Walaw untuk ukuran para riders speed 100 kmph itu cemen.

Tapi sekali jatoh minimal soek tuh badan, patah atau hancur spakbor motor.

Ngebut ?

Jangan, deh.





Duh… Kerja Malam Lagi

6 11 2010

Wow, shift tiga. Kalo diterjemahkan lebih ilmiah berarti berangkat kerja malam pulang pagi pagi.

Kalo orang disekitar saya nge-fans bener yang namanya dinas malam yang konon jam kerja-nya lebih cepat dari jam kerja normal. Gak terasa, baru datang, absen, tidur, tahu-tahu sudah pulang lagi (wew, itu mah tidurnya kebo kebablasan).
Kalo saya benci kerja malam-malam, karena badan rasanya gak sinkron menjadikan waktu bobo jadi waktu kerja dan sebaliknya.

Dulu waktu ngontrak masih jauh dari pabrik jahannam eh tercinta itu rutinitas malam malam nungguin bus jemputan sambil duduk terkantuk-kantuk di emperan toko menjadi pemandangan yang lumrah.

Gak peduli dekilnya lantai toko atau serasa gak nyaman ngeliat gelandangan yang enjoy saja seolah-olah tidur dihotel bintang tujuh.

Waktu bekerja pun disamping harus bertempur melunasi target juga menahan mata agar tetap bisa on, kalo sudah gak kuat, maka tidak ada jalan selain pasrah saja. Karena rasa kantuk kalo di lawan kopi malah jadi gerah, minum suplemen ampuh cuman setengah jam dan takut ginjal jadi keropos, maka tak ada jalan kecuali nahan ini mata. Karena tidur saat kerja adalah kejahatan. Waspadalah. Waspadalah.

Duh, ngantuk…





Nge-Blog Tanpa Pamrih

3 11 2010

Tak ada kata terlambat untuk beraubat. Tak ada kata terlambat untuk nge-blog apalagi sekedar sapa hangat “pertamax” antar netter. Karena internet menyatukan antar spesies manusia yang beragam jenisnya dalam layar monitor.

Internet memang menakjubkan, mungkin rasanya sama seperti takjubnya seorang petani kecil yang cuman mempunyai sepetak sawah kecil yang terkagum-kagum pada kebesaran seorang menteri pertanian yang rela turun ke sawah sekedar ngarit segenggam padi lalu mengacung acungkan padi hasil aritannya sambol difoto wartawan disertai tepuk tangan meriah dari pejabat terhormat setempat.

Atau sama menakjubkannya seperti perpustakaan besar, yang amat besar hingga berjuta-juta buku dan meter-meter tinggi lemarinya. Di tambah sang penjaga perpus yang super cekatan 24 jam mengambilkan referensi apa yang kita inginkan. Dan seperti kita tahu ternyata salah satu penjaga perpustakaan itu sudah aki-aki bernama Mbah Marijan, eh Mbah Google.

Nah, salah satunya dengan nge-blog, jalan yang indah dan penuh lika liku kita bisa menambah perbendaharaan pundi pundi emas pegetahuan dunia tanpa perlu mendapatkan lisensi atau pengakuan ilmiah dari uneversitas manapun. Yup! Dengan rajin seluncur sana seluncur sini maka pengetahuan mengenai aktifitas blogging menjadi semakin berkembang, di tambah referensi non-internet dari pengalaman, buku (atau sayup-sayup kata orang) asalkan ia berguna maka tinggal pijit tuh kibor maka kita sudah berbagi walupun hal yang sederhana sekalipun.

Dengan mengesampingkan dulu niat pamrih cari uang atau jadi rangking kesekian di blog, mari luruskan pemikiran bengkok kita dan mulai tuangkan hal-hal yang kita tahu ke layar komputer. Bila tak ada ide, mungkin saat nyangkul di sawah atau nungguin angkot lewat, ide akan datang dengan sendirinya. Karena ide itu mahal dan mampirnya cuman sebentar maka pulpen dan notes kecil jadi sasaran sementara. Simpa dulu kosepnya untuk kemudian go to warnet ngeblog.

Seperti kata seorang blog-master (alapyu pull), aktifitas ngeblog harus didasari niat ikhlas dengan tujuan berbagi, ya, berbagi, sekali lagi berbagi, lagi ah, berbagi, cukup. Karena kepopuleran serta nilai materi itu akan datang dengan sendirinya, sing penting adalah wawasan kita juga khalayak ramai bertambah pengetahuannya dan mudah-mudahan berguna untuk mereka. Hayuh, AH.





Peraturan Baru : Dilarang Mengobrol Saat Kerja

3 11 2010

“DILARANG MENGOBROL SAAT KERJA”

Jujur saja, saat tulisan berlaminating yang nempel dengan gagahnya di tempat biasa kami nongkrong, eh, kerja. Tak ada satu-pun para karyawan karyawati di work group ini yang tunduk patuh pada aturan baru yang tanpa stempel atau tandatangan itu. Karena disatu sisi lemah secara hukum positif indonesia, KUHP, UU Pornografi, dan budi pekerti adat kebangsawaan eropa (Hah?).

Bayangin saja, mas. tante, om, engkong, nyak, ahong, enci, encok. Rutinitas kita yang saban hari ampir ampiran mampus kecapean kerja dipabrik penghasil jeroan motor ini tidak boleh saling interasi (gini yah nulisnya?) satu sama lain alias ngobrol ngalor ngidul karena di anggap bisa membuat proses produksi ancur-ancuran yang ujung-ujungnya mempercepat kebangkrutan pabrik tercinta tempat mencari sebakul nasi untuk keluarga ini.

Emang sih secara logika bener, tentu saja si Mas yang gak bosan mengingatkan hampir tiap hari untuk memtuhi aturan bla-bla-bla-bla-bla juga bener. Tapi rasa-rasanya seperti semua peraturan yang ada : semua kami langgar ! Kecuali seperti membunuh, memperkosa, merampok atau mem-bom kedutaan AS di Jakarta.

Sebagai karyawan yang notabene masih muda, bandel dan rajin mengkonsumsi kopi + telor rebus di kantin, kami punya pemikiran lain.

Obrolan kami seperti layaknya obrolan pria-pria lainnya, mulai dari bola, politik, hape, motor sampe hal-hal yang tabu untuk dibicarakan seperti ngomongin artis yang kawin cerai. Di samping menjaga mata biar tak cepat layu ketika kerja atau mati kebosanan ngobrol kami juga punya arti tersendiri. Lebih mengenal sosok yang selama ini ketemu tiap hari dan mengobral pengalaman berharga masing-masing dalam kehidupan. Tak jarang ada kisah sedih campur aduk lucu lucuan ngakak jadinya ketoprak humor made in buruh.

Tapi, tenag aja boss. Dengan senang hati kitorang cari amon sajo. Kita gak akan ngobrol saat ada big boss atau ada litle boss. Secara rapi profesional dan masang’tampang kuli teladan tak berdosa’ kita rapihkan line, perbanyak kerja sedikitkan bicara, Yosss! Tapi Kalo boss udah ngeloyor pegi maka acara ketoprak humor tayang lagi. Gkgkgkgkgk.

Kalo dipikir-pikir, sebenarnya sah-sah saja mereka melarang ini itu, toh kita cuman nebeng kerja di pabrik mereka, di gaji lumayan pula, sudah tugasnya demikian membuat peraturan demi kelancaran produksi yang ujung-ujungnya kita juga yang kecipratan duit halal.

Tapi mungkin (pendapat pribadi) pendekatan secara one by one kurang di terapkan di sini, iklim kebersamaan yang tak nampak dibina membuat peraturan menjadi hal yang menjengkelkan untuk dibahas, apalagi ditaati.

Karena pada dasarnya tiap kepala itu beda isinya, seragam boleh sama tapi sifatnya beda-beda. Alangkah lebih bijak, siapaun, mengedepankan proses yang indah ketimbang tergopoh-gopoh menginginkan tujuan.

Bukan mustahil, acara ngobrol ngalor ngidul  kita pun  bisa stop kalo dikasih gaji 12 juta perbulan! HeHe.

 





Rela Jadi Pemulung Demi Membaca

3 11 2010

Membaca itu amat menyenangkan bagi kutu buku parah seperti saya, bahkan sejak jaman belum nyemplung sekolah ke es-de sekalipun, sampai saya punya satu kebiasaan jorok namun antik : mungutin koran bekas untuk di baca!

Entah itu lagi lewat, sedang main, makan, e-e di selokan, berangkat skul atau syuting (<–ini bohong) dimana ada koran bekas atau sesuatu yang bekas-bekas tapi ada tulisannya maka dengan sigap dan posisi tiarap mirip spiderman (bohong lagi) saya baca dengan hati riang gembira ibarat penambang emas liar yang menemukan gluntungan sekilo emas murni.

Alhamdulillah, hobi elit ini awet hingga sekarang, walow dosisnya sudah dikurang coz gengsi lah. Karena gak enak juga –lagi jalan kongkow bareng temen- ujug-ujug ambil sikap balik kiri terus jalan mungut koran dekil tak bernyawa dan sobek-sobek (tukul) serta dengan cuek saya baca sambil jalan. Bla-bla-bla-bla-bla, selesai, langsung dibuang.

Makanya disamping senyum / teh manis+kue gratisan, hal yang meneyenangkan ketika berkunjung silaturrahim ke rumah temen (kebanyakan kontrakan, sih. Tapi karena lebih indah di sebut rumah maka disebut rumah) adalah mengobrak-abrik koleksi bacaan pribadinya. Entah itu buku, majalah, dan brosur Ramayana atau koran seken yang konon berita-beritanya udah basi dan lebih cocok dibakar buat ngangetin badan kala turu salju. Maklum, prancis memang dingin (ini gak bohong, cuman indonesia mah kan cuman di jayawijaya doank ada salju-nya).

Jujur, dari dalam sini. Keinginan yang amat sangat kuat untuk membaca dimulai dari sejak kecil yang di godok belajar “ini-budi ini-ibu-budi ini-bapak-budi, bapak-budi-dan-ibu-budi kawin-gak-ondang-ondang kenapa yaa). Yup, ini untungnya punya bapak yag perhatian dan dengan sabar mengajari anak bungsunya ini agar pintar membaca sejak kecil, maka jadinya ganteng kalem hoby baca seperti ini. Tapi berhubung posisi geografis kampungku yang jauh kemana mana dan tak ada sarana membaca seperti perpustakaan umum atau taman bacaan, maka daripada jerawatan kareana hasrat membaca tak tersalurkan jadilah saya sang pemulung! Si ulung! Si ulung!

Kini membaca, seperti kebanyakan manusia indonesia, adalah hal yang menyebalkan. Rasanya gak rela badan ini beranjak ngambil buku di lemari terus duduk manis membuka halaman perhalaman untuk kemudian dengan takzim dibaca sampai selesai. Paling banter beli buku, di tata rapi di lemari lalu tak pernah di sentuh lagi kecuali sekedar bersih-bersih bulu, eh, buku.

But, Guys. Menurut pelajaran es-em-pe : Perbedaa antara masyarakat sejarah dan prasejarah adalah dari kempuan mereka ‘sudah tidaknya’ membuat tulisan. Kalo sudah bisa bikin prasasti batu yang diukir dengan tulisan yang sudah bisa dipastikan saya bingung artinya apa, maka para ilmuwan dan ilmuwati menyimpulkan : masyarakat suku budug gegel sudah masuk zaman sejarah karena oh karena mengenal tulisan. Padahal mungkin dulunya anak bungsu suku budug gegel cuman iseng-iseng ngegetok-getok batu gak ada kegiatan.

Mangkanya, tulisan merupakan saksi mati dari sejarah yang terkubur walaupun sudah ribuan tahun lamanya.

Makanya juga daripada para hadirin sekalian jadi jadul, gak mudeng terkungkung seperti bangkong dalam batok gak tau informasi ayo membaca, baca apa saja asal bukan pornografi. Mulai hari ini! Mungkin koran bekas bungkus nasi padang diujung jalan itu berisi informasi keren yang kita butuhkan.

Ayo Ulung!





Kamu Marah? Aku Juga!

3 11 2010

Arrrghhh…

Orang-orang ngamuk, semua ribut, pisau, samurai nyampe parang yang defaultnya buat nyambit rumput kini siap membabat habis leher-leher manusia bejat. Tidak ada yang memperdulikan jeritan para wanita yang khawatir darah akan tertumpah atau hardikan pak polisi berseragam yang jumlahnya hanya segelintir dari puluhan massa yang mulai naik ke ubun-ubun marahnya.

Anda pernah menyaksikan situasi ini secara langsung? Atau Cuma lewat TV saja (dan berharap tidak mengalami lagsung, takut nyawanya lunas). Dan cepat-cepatlah berharaplah negeri yang sedag kacau balau itu bukanlah Indonesia yang terkenal ramah, karena bangsa ini dari elemen manapun kini mulai gampang kesal, geram, merah dan membuang nalarnya yang tinggal segayung itu ke tong sampah serta lebih memilih golok-parang sebagai solusi terakhir.

Entah darimana kekerasan fisik mulai muncul, seingat memory masa kanak-kanak saya yang kadang-kadang amnesia ini. Sejak kecil saya (juga hampir semua orang) sudah akrab dengan intimidasi berbagai spesies, dari mulai dari dikerdilkan di antara teman teman karena berbeda fisik, dibuat menangis kerena dicelakai teman nyampe berdarah, sampai didorong ke dalam sumur kosong oleh anak-anak nakal dengan keisengan tingkat tinggi.

Cerita berlanjut ketika es-em-pe, palak memalak duit yang tidak seberapa setiap hari terjadi dan hati sampai sakit karena muka genjur di pukuli tiga orang di depan kelas di hadapan teman-teman. Dan mereka diam tak berkutik karena ngeri membayangkan tak bisa mengeluarkan jurus kamehame Dragon Ball untuk menyelamatkan saya yag tak berdaya.

Lanjut ke masa es-te-em. Yang tak kalah sadis. Dijalan, di terminal, di angkot, dipojok sekolah, kerasnya hidup terulang dan kembali intimidasi terulang demi membuktikan siapa kini yang jagoan.

Lulus dan kerja! Merdeka?

Belum, Bung! Kemeredekaan sejati belum engkau dapat bahkan ketika bedera merah putih dengn lantang kakek kakek kita kibarkan puluhan tahun silam tanpa memeperdulikan asongan bayonet-beyonet haus darah itu.

Masa kerja sebagai buruh, adalah ketika tarik ulur antara kepentingan para kapitalis idustri dengan dalil undang-undang tenaga kerja mencoba dengan sekuat tenaga merontokkan nasib kita yang cuman berharap kosong dari kumpulan kebijaksanaan hasil rapat orang-orang yang kelewat pintar itu.

Andai kau tahu, andai ku tahu (seperti lagu ungu) mungkin kegeraman kitalah yag selama ini membuat  kemarahan seakan tak terlakkan. Mugkin rasa keadilan yang cuma bisa di nyanyikan tapi tak jua di dapatkan membikin otak menggelegar seperti sumbu kompor yang pendek ketika amarah membangunkan singa yang sedang tidur leleap.

Maka, dengan senag hati kita menumpahkan rasa marah itu kepada sahabat, orangtua, istri, anak serta benda-benda tak berdosa yang pecah hancur dibanting.

Apa masalah selesai sampai disitu? Kenapa pula tangisan anak-anak kecil menjadi bad-ending dari sinetron kehidupan ini. Kenapa pula tangisan mereka berubah menjadi amarah yang membekas hingga dewasa karena mereka kini berpikir seperti kita : ini tidak adil!

Mungkin ketika marah kita harus berpikir : Bukan siapa yang salah, tapi apa kita mau berbuat benar?








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.